19 July 2011 1 Comment

Duka Bisa Datang Kapan Saja

Yes betul, Duka Bisa Datang Kapan Saja.  Dan seorang Perencana Keuangan atau Financial Planner / Financial Advisor memahami dan mengetahui resiko tersebut.  Tidak percaya?  Coba diingat-inga, beberapa bulan lalu terkaget – kaget kita semua mendengar berita duka meninggalnya salah satu anggota DPR yang masih muda yang terlihat sebelumnya masih segar bugar.  Baru beberapa minggu lalu kita juga dikagetkan dengan berita  meninggalnya Kyai yang dikenal dengan Kyai sejuta umat.  Tidak lama berselang berita duka datang lagi dengan meninggalnya seorang Deputy Gubernur Bank Indonesia.  Kita semua kaget dan sedih.

Anywaaay buuusswaaayyy, Akan tetapi setelah duka dan kesedihan tersebut lewat banyak hal-hal yang harus kita perhatikan, khususnya kepada keluarga yang ditinggalkan.   Yang sering terlupakan tapi menjadi fatal adalah pembagian waris atas harta si pewaris (orang yang meninggal dunia).  Akan tetapi sebelum melakukan pembagian waris, ahli waris diwajibkan untuk melunasi utang-utang dari sang pewaris.  Untuk utang-utang yang besar seperti KPR atau kredit kepemilikan rumah biasanya sudah dilindungi oleh asuransi jiwa yang akan membayar lunas sehingga rumah tersebut secara otomatis akan langsung lunas dan menjadi milik ahli waris yang harus dibagikan warisnya.

Akan tetapi bagaimana dengan utang-utang lain yang tidak terlalu besar akan tetapi bertebaran dimana-mana.  Belum lagi utang-utang yang sifatnya konsumtif.  Utang ini berbahaya apabila tidak diketahui dan secepatnya dilunasi oleh ahli waris karena utang konsumtif biasanya mengenakan biaya suku bunga yang sangat tinggi.  Beberapa contoh utang konsumtif seperti KTA atau Kredit Tanpa Agunan (bukan kredit tanpa angsuran ya..) dan utang kartu kredit.

Banyak pihak beranggapan bahwa utang kartu kredit secara otomatis akan lunas atau hapus buku apabila pewaris yang berhutang meninggal dunia.  Sayangnya kenyataan ini belum tentu tepat.  Banyak perusahaan penerbit kartu kredit tidak mengasuransikan utangnya, dan dalam kasus ini maka ahli waris lah yang wajib melunasi utang-utang tersebut.  Beberapa orang berargumentasi bahwa sekarang sudah terdapat produk asuransi kartu kredit (credit shield) yang dapat kita beli.  Hal ini sudah tepat, akan tetapi ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.

Pertama, cek apakah credit shield tersebut melindungi (asuransi) PHK, cacat tetap, dan bahkan melindungi dari resiko kematian (meninggal dunia)?  Kedua apabila melindungi dari resiko meninggal dunia, apakah saldo utang akan dibayar lunas atau membayar cicilan rutin?.  Ketiga yang tidak kalah penting adalah, apakah dana santunan dibayarkan langsung ke penerbit kartu kredit atau ke ahli waris.?  Terakhir cek premi yang dibebankan berbanding dengan saldo utang yang akan dilindungi.

Banyak asuransi jenis ini yang tidak transparan dalam membebankan biaya premi mereka dengan alasan saldo utang yang naik dan turun setiap bulannya.  Akibatnya kita justru membayar biaya premi yang jauh lebih besar.  Kalau kita mempunyai beberapa kartu kredit dengan saldo utang di kartu-kartu tersebut, sudah dapat ditebak biaya premi yang dibebankan ke kartu kredit kita akan bengkak.  Belum lagi biaya premi tersebut akan berbunga apabila tidak kita lunasi.

Jadi apa yang harus kita lakukan?  Carilah perlindungan atau asuransi yang memberikan biaya premi yang terjangkau.  Atau bisa juga dengan biaya premi yang sama akan tetapi nilai perlindungan yang lebih besar lagi.  Usahakan untuk mendapatkan pembayaran benefit kematian kepada ahli waris, sehingga apabila terjadi kelebihan dana dari pembayaran tersebut tidak hanya bisa dipakai untuk melunasi 1 kartu kredit saja akan tetapi bisa dipakai untuk melunasi utang-utang di kartu kredit yang lain atau bahkan utang lain (biaya rumah sakit dll).  Jenis asuransi ini memberikan opsi untuk menghitung Uang Pertanggunan bukan hanya berdasarkan besaran hutang tapi berdasarkan paket yang ingin kita beli, sehingga jumlah proteksi yang ingin didapatkan bisa lebih besar lagi.

Dengan cara seperti ini kita benar-benar bisa melindungi keluarga kita dari kemungkinan resiko meninggal dengan utang komsumtif yang besar, karena kita tidak pernah tau duka bisa datang kapan saja.

Salam,

Aidil Akbar Madjid

Akbar’s Financial Check Up

 

One Response to “Duka Bisa Datang Kapan Saja”

  1. nothing 19 July 2011 at 10:08 pm #

    belum kepikiran punya asuransi kartu kredit. sering ditawari tapi tolak terus. masih suka asuransi biasa :)
    nice info bang.


Leave a Reply