9 May 2011 0 Comments

Inflasi Musuh Uang Kita? 3

Masih membicarakan tentang inflasi, sebagai seorang Perencana Keuangan atau dikenal dengan Financial Planner / Financial Advisor , harus bisa membedakan produk investasi (real alias bisa mengalahkan inflasi) atau produk pasar modal yang tidak termasuk kategori investasi.

Anywaaay buuusswaaayy… karena dari tulisan ke 1 dan ke 2 masih banyak yang bingung tentang inflasi, baiknya dicoba jelaskan lagi dengan bahasa yang (mudah-mudahan) sederhana dan bisa dimengerti yak.  Jadi gini ceritanya, kan setiap Negara termasuk Indonesia itu cetak uang, kalo dikita ya Rupiah donk.  Uang itu ada yang beredar dan ada yang didalam instrument keuangan seperti diperbankan.  Nah ketika uang yang beredar tersebut menjadi banyak jumlahnya, kemudian ketersediaan barang-barang (bisa berupa pangan dll) terbatas, maka teori ekonomi (supply & demand) yang berlaku.  Yaitu ketika barang sedikit atau terbatas sementara uang banyak (dan banyak yang mau belanja) maka harga barang akan merangkak naik.

Hal inilah yang menyebabkan terjadinya inflasi, contohnya seperti awal tahun kemarin ketika panen cabai gagal menyebabkan jumlah cabai menjadi sedikit dan sulit didapat.  Sementara itu orang Indonesia kan harus makan pedes, akibatnya bisa ditebak, cabai merah kecil naik dari sekitar Rp. 33,000 per kilo menjadi sekitar Rp. 100,000 an per kilo.  Nah, efek dari kenaikan harga yang menyebabkan inflasi inilah yang menyebabkan nilai uang kita “menurun” seperti yang dicontohkan ditulisan ke 1 & 2 sebelumnya. Ok? Ok?

Lalu. terlepas dari inflasi, ciri-ciri bahwa suatu produk bisa dikatakan produk investasi adalah satu, produk tersebut harus memiliki resiko seperti misalnya resiko menurunan dari hasilnya (bunga atau hasil investasi), serta resiko kehilangan dana tersebut sebagian ataupun resiko kehilangan dana tersebut seluruhnya.

Dua, bahwa hasil investasi atau bunga dari produk investasi tersebut haruslah bisa memberikan hasil bersih yang lebih tinggi dari tingkat inflasi rata-rata ataupun tingkat inflasi saat itu.  Dua komponen sederhana ini yang kemudian dapat dipakai sebagai tolak ukur apakah produk tersebut layak disebut sebuah produk investasi.

Dibanyak tempat produk yang kemudian dapat disebut dengan produk investasi biasanya akan berkaca kepada produk pasar modal seperti misalnya Obligasi dan Saham.  Apabila kita memiliki dana yang cukup, Investasi pada instrument investasi ini dapat dilakukan secara langsung ke pasar modal.  Sementara apabila keadaan dana kurang mencukupi atau terbatas, investasi dapat dilakukan melalui produk “turunan” nya yang disebut dengan reksadana.

Dalam melakukan perbandingan untuk kurun waktu diatas 5 (lima) tahun, hasil investasi yang diperoleh dari investasi pada pasar modal memberikan rata-rata diatas inflasi rata-rata suatu negara.  Hal ini dapat terjadi dikarenakan harga saham dari suatu perusahaan tersebut akan ikut naik seiring dengan naiknya nilai penjualan.  Nilai penjualan tersebut akan naik salah satunya dikarenakan naiknya harga penjualan karena mekanisme supply & demand tadi.

Sebut saja misalnya salah satu sabun Lifeboy (note: ini bukan iklan) produksi perusahaan toiletries terbesar di Indonesia yaitu Unilever.  Nah, harga sabun ini 10 tahun yang lalu mungkin hanya berkisar beberapa ratus Rupiah saja (tepatnya sekitar Rp. 400-600,-).  Coba lihat harganya sekarang?  Mungkin sudah meningkat menjadi sekitar Rp. 1,400-1,600,-.  Mengapa harga sabun tersebut naik?  Kembali ketulisan diatas tadi.  Lalu apa lagi yang akan ikut naik?  Secara logika keuntungan perusahaan bisa naik yang akan berdampak kepada kenaikan harga saham perusahaanya.  Harga saham Unilever telah dipecah (Split) beberapa kali lipat agar harganya lebih terjangkau dikarenakan harga sahamnya yang cenderung naik terus.

Diluar negeri harga Saham perusahaan yang dipimpin oleh investor kawakan Warren Buffet pernah mencapai puluhan ribu Dollar Amerika per sahamnya.  Ini terjadi karena harga saham tersebut tidak pernah dipecah atau split sehingga nilainya terus naik seiring dengan kenaikan inflasi tahunan.  Beberapa investor besar yang terkenal menganjurkan bahwa kita berinvestasi disaham-saham yang produknya kita pakai sehari-hari, contohnya produk toiletries, makanan, minuman, rokok dan banyak lagi yang lainnya.  Itu baru mengambil contoh produk dipasar modal seperti saham.  Bagaimana dengan property?  Seperti yang kita ketahui jumlah tanah (yang bisa dibangung & dihuni) yang terbatas di Indonesia sedangkan jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan harga tanah tersebut naik.

Dari beberapa contoh diatas dapat disimpulkan bahwa benar inflasi adalah musuh dari aset-aset kita yang kurang atau tidak produktif.  Akan tetapi inflasi bukan serta merta musuh dari aset kita terutama aset kita yang produktif alias aset investasi kita, jadi? Apakah Inflasi Musuh Uang Kita?  Membaca tulisan dan contoh diatas anda bisa tau sendiri jawabannya.

 

 

Leave a Reply