2 August 2010 5 Comments

Seri 1: Inflasi, Redenominasi, Duit & Investasi Gue Gimana?

Jujur, tulisan ini sudah pernah saya muat di kolom Business & Money Talk versi yang mirip di Majalah Gatra terbitan tanggal 22 Juli 2010 kemarin.  Akan tetapi versi ini saya berikan tambahan-tambahan info lagi biar lebih lengkap yak. Oh iya berhubungan tulisannya panjang, dan biar ngak pusing bacanya maka tulisannya saya buat 2 seri, yang seri ke 1 bahas inflasi, yang seri ke 2 tentang redenominasi peserta investasinya.

So sebenarnya mulainya adalah ketika awal-awalnya saya pernah kasih warning alias peringatan tentang adanya Inflasi tinggi dan Tanpa disadari kita sudah memasuki babak tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari sekarang, kalau ngak percaya  coba liat aja Kenaikan tarif jalan tol dibeberapa ruas jalan tol diikuti dengan kenaikan biaya perpanjangan Tanda Nomor Kendaraan baru-baru ini secara otomatis menambah beban biaya transportasi.  Belum lagi pemerintah mulai menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) yang sudah barang tentu memberatkan semua lapisan masyarakat dari yang paling atas sampai ke masyarakat terbawah terkena imbasnya.  Meskipun dikatakan bahwa untuk masyarakat bawah tidak ada kenaikan harga listrik, akan tetapi dampak dari kenaikan listrik dikelas atas dan industry mulai dirasakan oleh masyarakat kelas bawah dengan mulai merambat naiknya harga-harga dipasar (maap ya bahasnya agak serius neeeehh bahasanya)

Anyway busway…. ngak bisa bohong yak kalo liat keadaan 3 minggu terakhir harga-harga sembako merangkak naik mulai di minggu ke 2 bulan puasa, saat ini dengan alasan panen yang gagal karena hama, banjir atau bahkan kering harga-harga sembako sudah mulai merangkak naik.  Meskipun belum semua sembako merangkak naik tapi beberapa barang yang sudah menjadi kebutuhan orang Indonesia seperti cabai naik cukup tinggi.  Konon harga cabai ini naik dari Rp. 16,000 ke Rp. 30,000 per kilo di beberapa pasar di kota-kota besar.  Kenaikan sebesar 87% yang cukup fantastis.  Sedangkan harga bawang baik bawang merah maupun bawang putih juga naik cukup tinggi diatas 20-40% tergantung dari daerah dan pasarnya, mati ngak tuh…. gimana ibu-ibu atau emak kita ngak tereak duit belanja ngak cukup kan?.

Nah kebayang kan, kalau harga daging sudah cukup mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian masyarakat di Indonesia, maka demikian juga dengan harga ayam yang ikut-ikutan merangkak naik.  Padahal selain ikan, ayam adalah salah satu sumber protein bagi keluarga yang sebelumnya masih cukup terjangkau.  Sebagai gambaran saja harga ayam potong dipasar minggu yang naik dari Rp. 25,000 ke Rp. 35,000.  Memang secara nominal “hanya” naik sebesar Rp. 10,000, akan tetapi dalam dalam persentase kenaikan tersebut cukup mengagetkan, yaitu sebesar 40%.  Resiko kekuangan gizi neeeeehh anak bangsa kita (cieeeeeee… concern nih gwwww).

Bisa dibayangin ngak? apa yang akan terjadi ketika memasuki bulan suci Ramadhan dan mendekati hari Raya Idul Fitri.  Sudah dapat dipastikan harga-harga tersebut akan naik lebih tinggi lagi (meskipun tetap ada sedikit harapan harga akan turun).  Pemerintah yang selama ini dengan bangganya menampilkan angka-angka inflasi yang terjaga nampaknya dalam waktu dekat ini mau tidak mau harus mulai melakukan control terhadap kenaikan harga tersebut.  Operasi pasar harus mulai dilakukan untuk mencegah kenaikan yang tidak terkendali.  Kan saya pernah cerita di kelas and talkshow (bagi yang pernah ikutan kelas Financial Planning & Talkshow saya) kalau data inflasi BPS agak2 meragukan sementara setiap orang mempunyai inflasi pribadi alias personal inflation.

Akibat dari ini, kemudian banyak dari temen-temen yang tanya di twitter saya http://twitter.com/aidilakbar  alias @aidilakbar plus di Facebook juga di Akbar Keuangan bertanya-tanya apa yang akan terjadi apabila kenaikan inflasi mulai tidak terkontrol.  Ada beberapa komponen atau indicator ekonomi yang harus anda perhatikan.  Indikator pertama yang harus anda perhatikan adalah suku bunga yang akan naik perlahan untuk meredam inflasi ini.  Dengan kenaikan suku bunga ini akan memberikan “sinyal” ketidak stabilan ekonomi Indonesia.  Hal ini secara perlahan akan membuat dana-dana “hot” money yang berada di Surat Utang Negara (SUN) perlahan akan keluar dari pasar dan kembali ke negaranya.  Dampak yang akan terasa adalah nilai tukar Rupiah terhadap Dollar yang melemah alias Dollar Amerika yang akan merangkak naik.  Tentu saja bank Indonesia tidak akan tinggal diam.  Dengan cadangan devisa yang cukup besar (konon bias menurup hampir 6 bulan net import) maka Bank Indonesia akan melakukan operasi pasar guna menurunkan atau menjaga agar Dollar Amerika tidak naik secara drastis dan menyebabkan pasar panik.  Meskipun hot money yang baru aja masuk kemarin sebesar Rp. 790 miliar justru menyebabkan bursa terbang diatas 3,000 dan nilai tukar Rupiah menguat dibanding USDollar ke level 8900an.

Mikir doooonkkkk, trus investasi gue gimana gitu?  hahahahaha mulai deg2an ngak?  well Yang akan terasa secara langsung adalah pasar Surat Utang atau Obligasi.  Secara teori harga obligasi atau surat utang akan turun ketika suku bunga (SBI) naik nanti.  Harga obligasi yang turun ini membuat valuasi (penilaian) harga obligasi di produk keuangan Reksa Dana juga akan turun.  Ha lini akan membuat Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana akan turun yang menyebabkan return (hasil investasi) anda di Reksa Dana Pendatapan Tetap juga turun.  Lalu bisa tambah diperparah dengan kebijakan pemerintah yang akan mengenakan pajak pada kupon (bunga) obligasi yang diterima didalam dana kelolaan dari Reksa Dana, yang juga akan membuat hasil investasi ikut turun.  Pasar saham (bursa) biasanya juga ikut panik karena sentimen negatif dana asing yang keluar dari Indonesia memberikan sinyal kondisi economi mulai memburuk.

Analogi mainan jungkit2 di TK pasti ada kan? (maap lupa nama aslinya taunya cuma jungkit2 hahaha) nah, apabila ada yang turun tentu akan ada yang naik bukan?  Lalu apa yang naik ketika inflasi naik?.  Sejarah di Indonesia menunjukan harga emas (Logam Mulia) akan naik ketika inflasi naik di Indonesia.  Ha lini dikarenakan banyak masyarakat yang meragukan kepercayaan mereka dalam memegang mata uang Rupiah sehingga banyak memborong emas (meskipun sekarang juga sudah banyak yang memborong).  Kesempatan (oportunity) juga bisa diambil dengan kenaikan harga Dollar America, meskipun ada resiko nilai tukar tidak berubah karena Bank Indonesia mencoba menahan laju kenaikannya.  Apalagi Bank Indonesia dengan PEDE nya sekarang bilang bahwa mereka punya cadangan devisa yang cukup untuk “hampir” 6 bulan net impor.

Untuk Redenominasi nya nyambung ke tulisan berikutnya ya…. silahkan dibaca.

5 Responses to “Seri 1: Inflasi, Redenominasi, Duit & Investasi Gue Gimana?”

  1. david 4 August 2010 at 10:39 am #

    Bang Akbar kalo mau nabung dalam bentuk mata uang asing yang resikonya kecil thd inflasi di Indonesia jenis mata uangnya apa? Euro, Pound, Yen, Yuan atau $$ Sing?

  2. nova elya 30 August 2010 at 10:50 pm #

    jadi mas…apa sekarang saat yang tepat untuk melakukan pembelian RD pendapatan tetap karena nilainya lagi turun…????atau sebaiknya berinvestasi di emas..??? tx a lot b4 mas…

  3. humaira kenanga 23 September 2010 at 8:18 pm #

    Logam mulia memang investasi yg tdk tergerus aliran jaman ya :)

  4. bayu 3 August 2010 at 5:42 pm #

    aduh, inflasi naik tapi gaji ga naik, tekor deh kita..daya beli tergerus..


Trackbacks/Pingbacks.

  1. Simple, Fun and Practical Check Up » Blog Archive » Seri 2: Inflasi, Redenominasi, Duit & Investasi Gue Gimana? - August 2, 2010

    [...] dari tulisan sebelumnya, kalau tadi kita bicarain inflasi, trus gimana dengan kondisi negara kita sekarang dan [...]

Leave a Reply

online pharmacy viagra super active online